Rumah Kosong

9 Sep 2008

56de11e93617cb2c310ca70098d8bf87_images-2Malam kian larut, hujan pun tak kunjung reda, kurang lebih jam 8 malam, tiba-tiba suasana menjadi gelap gulita. Dalam suasana hening, tak ada satu pun teman di kost, yang kala itu mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Tak segera jua lampu menyala, mulai lah saya beranjak keluar kamar.

Semua lampu di kota kecil ini padam, awan hitam pun tak memberikan kesempatan pada sang bulan menyinari bumi. Saya tertatih menuruni anak tangga, keluar dari ruang pengap nan sunyi.

Sesampainya di emperan depan indekost, jalan raya penghubung Solo-Semarang ramai kendaraan berlalu-lalang. Sesekali bias cahaya lampu mobil menerobos lebat hujan mengenai wajah, desau angin ramaikan malam dalam kesendirian.

Termenung menatap beragam keelokan dunia ini, langit hitam dan tetesan air hujan sangat menakjubkan. Ia lah penghibur sejati di kala hati gundah, merana dan sebagainya.

Aku tergoda rumah tua depan indekost, guman hati.

Rumah itu menempati satu petak lahan, yang senantiasa membuat hati bertanya-tanya.

Dinding temboknya retak-retak dan jendela kacanya pecah, dan pemandangan itu terkesan menyeramkan sekali.

Entah mengapa saya larut oleh bangunan tua itu.

Angin menyapu daun-daun berserakan di jalan. Saya tertegun menatap rumah tanpa penghuni itu.

Ia tak ubahnya dada pengap pada diri manusia yang tak memiliki harumnya bunga dan warna-warninya cat pagar, lirih hatiku.

Sekalipun rumah itu jelek, barangkali akan lain kalau ada yang merawatnya. diisi aneka hiasan, misal bunga diletakkan di beranda depan rumah. Suasananya lebih menghidupkan, apalagi jendela seringkali di buka di kala sang fajar menampakkan diri.

Hembusan angin pun akan menghusap pengap melekat pada dinding-dinding.

Kurang lebih 30-an menit saya tertegun di emperan. Hanya ditemani satu batang rokok Jarum 76 untuk saya hisap. Belum jua tanda lampu di kota yang letaknya di kaki gunung Merbabu ini segera menyala.

Malam kian larut, udara pun semakin tak bersahabat, tapi aku benar-benar terpukau olehnya….

Layaknya rumah kosong itu pula jiwa ini, kerapkali melawan derasnya hujan dan teriknya sinar matahari di siang dan malam hari. Yang tinggal menantikan robohnya saja, tiang-tiangnya telah lapuk, atau kalau gak dimakan rayap-rayap.

Mata mulai perih, gak tahu kenapa, mulai lah saya bangkit dari tempat duduk. Saya gerak-gerakkan pergelangan tangan, sambil jalan menyusuri ruang gelap kembali ke kamar lantai dua.

Saya nyalakan korek untuk menerangi ruangan. Melihat-lihat pintu kamar berjajar milik temen-temen kost. Rasanya aman, saya bergegas menuju kamar di lantai atas.

Pintu kamar telah terbuka, saya masuki ruang gelap nan pengap itu lagi.

Tubuh kembali terasa hangat, saya baringkan tubuh di atas kasur keras, dan sebagian basah terkena air hujan.

Tak lama, saya dikagetkan nyala lampu kamar. Urung lah tidur, bukan kebiasaan saya tidur saat ini. Ketika di kost saya habiskan buka internet, sebelum mengawali hari-hari utama menuliskan sesuatu tentang hidup. Dengan begini, saya terhibur, bahkan kian menuntun untuk menuju cita-cita.

-Saya tulis pada sebuah malam, saat lampu padam, sendiri-


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post